30 March 2020

RADIATOR CUP TESTER DAN PENGGUNAANYA

Fungsi radiator & cup tester adalah untuk memeriksa fungsi dari katup pada tutup radiator dan memeriksa sistem pendingin terhadap kemungkinan kebocoran.

Penyebab terjadinya sistem pendingin bocor bisa karena pemakaian yang lama dan perawatan sistem pendingin yang kurang teratur dapat menyebabkan kebocoran yang mengganggu sirkulasi air pendingin.



Cara mengatasinya dengan tes tekanan sistem pendingin untuk menemukan tempat yang mengalami kebocoran, dengan memompakan udara pada sistem pendingin melalui radiator akan menyebabkan air menetes pada bagian-bagian yang bocor.

Alat yang digunakan adalah radiator pressure tester. Bagian-bagian yang rawan bocor adalah pada sambungan pipa air dan bak penampung.

Pemompaan ke dalam radiator tidak boleh melebihi tekanan kerja 118 k.Pa (1,2 kgf/cm² atau 17,1 psi) dari sistem pendingin karena dapat merusakkan bagian - bagian sistem pendingin lainya.
Setelah sistem diberi tekanan 118 k.Pa (1,2 kgf/cm² atau 17,1 psi), bila tekanan jatuh, maka sistem mengalami kebocoran.

Dengan radiator pressure tester maka dapat diketahui tempat kebocoran yang akan diperbaiki. Bila tidak ada kebocoran luar, mungkin kebocoran terjadi pada blok silinder dan kepala silinder (head silinder).





Cara Menggukan Radiator Cup Tester :
1. Pemeriksaan Tutup Radiator 
Dengan radiator cup tester dapat diketahui apakah ada kebocoran pada tutup radiator atau tidak. Air pendingin yang bocor melalui tutup radiator dapat diakibatkan oleh karena radiator dan tutupnya tidak rapat, sehingga seal pada tutup radiator tidak mampu mencegah kebocoran air pendingin terutama apabila air pendingin telah mencapai temperatur tertentu sehingga tekanan di dalam radiator juga akan mengalami kenaikan. Akibatnya tekanan yang berupa uap air akan keluar melalui seal. 

Kebocoran ini akan menyebabkan air pendingin pada radiator menjadi berkurang. Kebocoran akan lebih jelas lagi apabila ada goncangan pada radiator. Kebocoran pada tutup radiator dapat dikertahui dengan menggunakan radiator pressure dengan terkanan pembukaan standar 74 - 103 k.Pa (0.75 - 1.05 kgf/cm², 10.7 - 14.9 psi) dan tekanan pembukaan minimum 59 k.Pa (0.6 kgf/cm², 8.6 psi). 
  • Buka tutup radiator, Hati-hati jika mesin dalam keadaan masin panas, tunggu hingga dingin untuk mencegah terjadinya bahaya panas, karena dalam keadaan mesin masih panas  cairan dan uap yang bersuhu tinggi bertekanan dapat saja menyembur keluar.
  • Memilih Adapter, Pilihlah adapter yang tepat sesuai dengan ukuran tutup radiator. Pasang tutup radiator pada adapter kemudian pasang adapter pada radiator cap tester
  • Kemudian pasang tutup radiator pada radiator cap tester (alat uji tutup radiator).
  • Periksa Tutup Radiator, Pompa tutup radiator dan perhatikan jarum tekanan (pressure gauge) pada pompa tangan. Pressure gauge harus menunjukan kisaran tekanan 0.9 Bar atau 14.7 PSI. Jika tekanan lebih dari atau kurang dari spesifikasi maka gantilah tutup radiator.




2. Pemeriksaan Kebocoran Sistem Pendingin

Isilah radiator dengan coolant water / air pendingin, kemudian pasanglah radiator cap tester pada lubang pengisian air pendingin pada radiator seperti pada gambar


  • Pompalah radiator cap tester sampai tekanan 1,2 kg/cm2 (17,1 psi), dan periksa bahwa tekanan tidak turun.
  • Apabila tekanan turun berarti ada kebocoran pada sistem pendingin atau pada komponen sistem pendingin. Oleh karena itu perlu diperiksa kebocoran pada saluran pendingin, radiator, dan pompa air.
  • Apabila tidak ditemukan kebocoran pada komponen tersebut, maka perlu diperiksa blok dan kepala silinder

NB : DISARIKAN DARI BEBERAPA SUMBER DI INTERNET

No comments: