01 September 2009

ELING
(Sebuah renungan kehidupan)

Dalam kamus bahasa Indonesia terbitan balai pustaka, kata eling dimaknai sebagai : berpikir sehat; bijaksana ; pantas ; ingat akan Tuhan Yang Maha Esa. Makna tersebut jauh dari perkiraan kita selama ini, yang mengangap bahwa eling berarti ingat, titik, hanya itu. Jadi ketika kita tidak berfikir sehat, bijaksana, pantas, dan tidak ingat akan Tuhan Yang Maha Esa, berarti, kita tidak eling.

Dijaman era globalisasi dan informasi yang begitu deras ini kata kata eling menjadi sangat penting dicermati. Eling membuat kita tidak hanyut, tetapi tidak lari dari kenyataan / realita sebenarnya. Eling berarti waspada dan selalu ingat, menjadikan kita memiliki sifat hati-hati.

Dalam bebrapa petuah eling ada yang sangat menarik perhatian penulis, yaitu :
Eling kudu tansah semende marang pepesten.
Eling kudu tansah pasrah ing Allah.
Eling kudu rumangsa mung dadi titah.
Eling kudu rumangsa saderma nglakoni.
Eling kudu tansah sabar narima. Narimo ing pandum.
Eling kudu tansah lila legawa, bisa gawe seneng atine liyan.


Sekali lagi disini tidak mengajak untuk lari dari kenyataan dan menyalahkan nasib. Tetapi mari kita cermati lebih dalam lagi.

Eling kudu tansah semende marang pepesten. Ketika kita berusaha dan berusaha lalu tanpa hasil terkadang kita mengeluh dan mencari cari kesalahan diri atau lebih parah lagi kesalahan orang lain. Di sini kita diajak untuk ingat, eling bahwa yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa. Eling kudu tansah semende marang pepesten.

Menyadari seperti itu berarti kita juga harus selalu eling kudu tansah pasrah ing Allah. Artinya segala sesuatu mari kita pasrahkan sepenuhnya kepada Allah, biarlah Dia yang mengatur semuannya.

Mengapa kita harus pasrah kepada Yang Maha Kuasa?. Eling kudu rumongso mung dadi titah. Ingat kita hanya sebagai titah. Kalau dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai makluh, tetapi dalam bahasa jawa ini titah diartikan lebih dalam lagi, lebih tepatnya sebagai hamba.
Karenah hanya sebagai hamba akhirnya kita sebagai manusia eling kudu rumongso sadremo nglakoni. Kita hanya menjalani saja. Serahkan segalannya kepada Yang Maha Kuasa.

Keadaan kita sebagai titah, hamba, dan hanya menjalani saja apa yang sudah menjadi pepesten , maka kita harus mau tidak mau sabar narimo, nrimoing pandum. Sabar menerima segala sesuatu yang terjadi, dan menerima semua rejeki yang telah diberikan dengan rasa syukur. Lila legawa dan dak perlu iri dengan teman yang lainnya.

Semoga falsafah jawa yang mulai ditinggalkan, bahkan dianggap tidak agamis ini menjadi renungan kita semua.
lilik-s.blogspot.com

0 komentar: